Tes Spesimen Turun, Kontradiksi Pemerintah Tangani Corona

Jumlah spesimen yang diperiksa turun dalam lima hari terakhir membuat pelandaian positivty rate yang semu.

Jumlah spesimen atau sampel pemeriksaan warga terkait virus corona (SARS-CoV-2) turun dalam lima hari terakhir, 24-28 Desember 2020. Penurunan jumlah pemeriksaan spesimen ini terjadi saat libur Hari Raya Natal 2020.

Adapun serangkaian pemeriksaan tersebut dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) atau tes swab maupun tes cepat molekuler (TCM).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang diolah Satgas Penanganan Covid-19, pada 24 Desember jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 61.068 spesimen.

Setelah itu jumlah terus menyusut, yakni pada 25 Desember sebanyak 50.393 spesimen, 26 Desember 44.581 spesimen, 27 Desember 41.963 spesimen, dan 28 Desember 34.796 spesimen.

Minimnya pemeriksaan spesimen tersebut membuat penurunan positivty rate semu.

Positivity rate merupakan persentase perbandingan antara jumlah kasus positif virus corona dengan jumlah tes. Dalam hal ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas persentase positivity rate sebesar 5 persen.

Dapat dikatakan, semakin rendah positivity rate di sebuah negara, berarti jumlah orang yang dites semakin banyak dan upaya pelacakan kontak erat memadai.

Positivity rate di Indonesia selama beberapa hari terakhir pun melebihi 20 persen.

Rinciannya, pada 24 Desember positivity rate sebesar 17,96 persen. Kemudian naik pada 25 Desember menjadi 20,66 persen, 26 Desember sebesar 21,58 persen, dan 27 Desember sebesar 22,18.

Namun, terjadi penurunan positivity rate meski tidak signifikan pada 28 Desember dengan 21,98 persen.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai penurunan spesimen, bahkan jumlah orang yang diperiksa menunjukkan bukti pemerintah kurang konsisten terhadap komitmen melandaikan kasus Covid-19 di tanah air.

"Penurunan pemeriksaan testing itu akan membuat surga bagi virus ini menyebar dengan leluasa. Dan itu kontradiktif dengan upaya pemerintah untuk menutup pintu masuk penerbangan dari negara lain," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (29/12).

Selain itu, Dicky juga menyinggung soal positivity rate Indonesia yang semakin jauh dari ambang batas WHO dan menduduki posisi yang cukup tinggi dibandingkan negara lain.

Berdasarkan sebaran data terakhir, Indonesia berada di peringkat 20 negara dalam hal jumlah kumulatif kasus Covid-19.

"Semakin tinggi positivity rate, maka pandemi semakin tidak terkendali," ujarnya.

Dicky mengatakan pemerintah seharusnya melakukan pemeriksaan yang lebih masif saat musim libur guna mendeteksi lebih banyak kasus Covid-19 akibat mobilitas warga.

Menurutnya, laboratorium dan sumber daya manusia (SDM) sewajarnya sudah tak lagi menjadi masalah ketika pandemi telah berlangsung dalam kurun 10 bulan ini di Indonesia.

"Seharusnya tidak ada penurunan, malah peningkatan testing. Selain itu, tujuan akan tercapai dengan memastikan yang berangkat dan pulang liburan itu," ujarnya.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito belum merespons konfirmasi CNNIndonesia.com terkait penurunan jumlah spesimen yang diperiksa.

Kendati demikian, Wiku sebelumnya sempat mengatakan pada 19 November lalu, bahwa pihaknya menyayangkan penurunan pemeriksaan spesimen yang kerap terjadi pada saat akhir pekan dan libur panjang.

"Kami menyayangkan sekali hal ini terjadi mengingat virus ini tidak mengenal hari libur, maka kita tidak lepas tangan dalam kondisi ini," kata Wiku.

Menghadapi kondisi itu, Wiku pun mengaku akan melakukan evaluasi, dan mengimbau kepada pemerintah daerah untuk memperbaiki operasional laboratorium. Salah satunya dengan cara penambahan sif dan pemberian insentif kepada tenaga kesehatan yang bertugas.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama