Berkawan Dengan Kelok Terjal Lembah Ramma

Bertandang ke Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tidak cukup hanya menyesap nikmat kopinya.

Bertandang ke Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tidak cukup hanya menyesap nikmat kopinya. Bagaimana dengan menerima jamuan Gunung Bawakaraeng?

Bagi kalangan pendaki, pendakian Gunung Bawakaraeng tidak pernah menyisakan sesal, terlebih jika melalui jalur Lembah Ramma.

Meski medannya cukup sulit dilalui, Lembah Ramma menjanjikan pemandangan elok nan memanjakan mata.

Lembah Ramma berada di Kecamatan Malino, Kabupaten Gowa.

Dari Makassar, Anda memerlukan waktu dua jam perjalanan. Mulai dari Desa Lembanna, petualangan dimulai. Udara dingin desa langsung menyergap, tanda ucapan `selamat datang` dari alam. Tidak langsung menyusur jalur pendakian pun tidak masalah, sebab Anda bisa bermalam di penginapan.

Jalur Lembah Ramma bisa dibilang jalur yang `ramah` untuk pendaki pemula. Namun jangan khawatir sebab di beberapa titik, pendaki pemula akan mendapati medan cukup berat termasuk naik turun bukit juga menyeberangi sungai.

Jalur pendakian dimulai dengan menyusur perkebunan sayur dan buah. Kemudian perlahan masuk wilayah hutan dengan pepohonan rendah. Semakin berjalan, medan makin bervariasi pun diwarnai dengan akar-akar pohon yang seolah membentuk anak tangga.

Sebaiknya Anda tetap mendaki hingga mendapati pemandangan Lembah Ramma dari ketinggian. Bayangkan hamparan hijau pepohonan, udara sejuk plus rasa puas karena hampir mencapai garis finish.

Biasanya pendaki akan beristirahat di Lembah Ramma dan mendirikan tenda. Dekat lembah terdapat aliran sungai sehingga tidak perlu khawatir akan sediaan air.

Usahakan mencapai lembah sebelum matahari terbenam karena saat cuaca baik, semburat kuning-oranye akan menghiasi langit dengan lanskap barisan perbukitan Talung.

Jelang malam, tidak perlu buru-buru merebahkan tubuh di dalam tenda. Nikmati dulu taburan bintang sembari menyesap minuman hangat.

Rasanya tidak cukup memang jika hanya menghabiskan satu malam di Lembah Ramma. Tidak heran wisatawan kerap menghabiskan paling tidak dua malam untuk berkemah.

Selain pesona matahari terbenam, sekitar 45 menit dari lembah terdapat Danau Slank. Panorama danau seolah membayar lunas kunjungan Anda di kaki Gunung Bawakaraeng.

Karena Anda sudah berada di wilayah Kabupaten Gowa, tak ada salahnya menyambangi lokasi wisata lain di sini.

Sama-sama berada di kaki Gunung Bawangkaraeng, terdapat Danau Tanralili, Desa Manimbahoi, Kabupaten Gowa.

Kabupaten ini pun menyimpan beberapa wisata air terjun seperti, Air Terjun Parangloe di Kecamatan Parangloe, Air Terjun Cinta di Desa Bengo, dan Air Terjun Takapala di Kecamatan Tinggimoncong.

Ingin suasana alam dan dekat dengan pepohonan? Bertandang saja ke Hutan Pinus Bissoloro, di Bungaya. Hutan pinus di sini tidak kalah dengan hutan pinus kesohor di wilayah Jawa.

Bagi penyuka wisata sejarah, Museum Balla Lompoa dan Benteng Somba Opu layak masuk daftar kunjungan.

Museum merupakan rekonstruksi istana Kerajaan Gowa ke-31 (1936). Museum jadi saksi kebesaran peradaban kerajaan Gowa.

Kemudian lanjutkan perjalanan ke Benteng Somba Opu. Bangunan ini sempat terendam dan hancur digempur ombak tetapi, pada 1990 mengalami pemugaran.

Tidak hanya alam dan budaya, kunjungan ke Gowa juga menawarkan perjalanan rohani layaknya di `tanah suci` Israel. Anda seperti diajak mengunjungi gereja dengan gaya bangunan Eropa lawas. Lokasi ini terbuka buat siapapun. Sembari menikmati suasana sakral, di sini pun dikelilingi pepohonan sejuk dan damai.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama